Kamis, 18 September 2008

Aku dan lukisan

Kebanggaanku sebagai murid ketika memenangkan lomba gambar kualami ketika aku duduk dikelas I SMP Aneka Tambang Pomalaa - Kolaka. Apa yang kugoreskan dalam lomba itu hanyalah sebuah gambar pemandangan sawah dan gunung. Aneh memang .. jika kita perhatikan dari dulu hingga sekarang anak-anak Indonnesia pasti akan menggambar obyek ini. Sedikit sentuhan lain yang kugores dalam gambar itu hanyalah gambaran pemandangan itu diubah menjadi suatu " View dari sebuah kaca bulat". Entah guru yang menilai yang tidak paham arti sebuah lukisan entah gradasi warna yang membuat ia begitu tertarik dengan gambar yang kubuat. ALhasil seorang " Evi si tukang protes semasa SMP itu - berhasil meraih juara III lombah gambar di SMP daerah terpencil itu.
Kisah berikutnya, aku pernah distraf oleh Guru - Civics alias PPkn untuk mata pelajaran sekarang gara-gara untuk menghilangkan kantuk yang bersarang pada diri ini, terpaksa aku menyimak wajah yang sangat javaness. Kepala botak mengkilat menimbulkan sinar bulan ditengah siang bolong dari atas kepalanya. Guru itu bernama Bapak Sardjono. Detail wajahnya kugores dengan pencil B2. Matanya. Hidungnya dan bibirnya. Fokus utama dalam melukis wajah ternyata ada pada sepasang mata. Setiap detik dan menit aku melihat wajah pak Sardjono. Barangkali Pak sardjono itu menganggap aku bergitu begitu tekun menyimak pelajarannya.. Alhasil aku tersenyum-senyum ketika aku berhasil menggoreskan wajahnya bak sebuah karikatur. Rupanya senyum simpulkanku disambut oleh teman sebangku ku yang bernama " Nina yang mungil dan cantik". Entah dimana dia sekarang. Bukan sekedar senyum simpul dari seorang Nina, melainkan sebuah ketawa ngakak. Ketawa ngakak itu berantai pada teman di bangku belakang kami. Keributan kecilpun terjadi. Semua ingin melihat gambar itu. Gradak gruduk yang berbuah kegaduhan itu mengundang keingin tahuan sang Guru tercinta. Beliau menghampiriku - tanpa sedikitpun aku mencoba itu menyembunyikannya. Bapak Sardjono - seorang guru yang selalu berapi-api menjelaskan pancasila akhirnya dengan muka bersemu merah menegurku. Yang kuingat dia tidak marah sambil memberikan nasehat bahwa kegemaran menggambar itu hendaknya dilakukan dengan serius.

Evi dan dunia menjahit



Evi dan Musik


Seingatku, aku dibelikan alat musik kampung oleh Nanak (ibuku) berupa talempong mini. Nanak hanya mengajari suatu not dasar do re mi fa sol la si do.... Ia mengajariku lagu yang lagi populer dikampung masa kecilku yaitu Tabing - Koto Tangah - Padang - Sumbar.
Adapun nyanyiannya adalah :
tak tongtong galamai jaguang..
tagundak gundak kacambuang basi..
Dahulu balaki aguang.
Kini balaki tukang padati....

Ketika itulah aku berkhayal akan menjadi seorang penyanyi setelah menyaksikan penyanyi cilik sedang manggung di Balai Kota - Padang. Jujur saja ketika masa kecilku suaraku sangat bagus. Kalau agak sedikit pede.. dan orang tua paham dengan bakat dan hobby- barangkali Nanak akan berjuang pula agar bisa ikut pada pentas Idola Cilik atau Mama Mia kalee...

Ketika aku merantau semasa usia ABG ke daerah terpencil pada pertambangan Nikel Pomalaa - Sultra, benar-benar aku menimba ilmu musik dari seorang pembantu rumah tangga kami yang bernama si Kaka... Ia pemuda Tanah Toraja, yang mahir memainkan gitar okulele, suling dan harmonika. Aku sering mentertawakannya ketika bermain suling. Mulutnya yang dower semakin berarti karena tiupan maut serulingnya. Irama nyanyian Toraka mendayu-dayu dan meratap .Si Kakak ingat akan kekasihnya.. Akhirnya secara serius aku belajar gitar kecil yang disebut okulele itu dengan lagu-lagu bernuansa gerejani.. Maklum si Kaka beragama katolik dan mengajarkan aku lagu-lagu natal. Semua lagu itu lancar aku mainkan dengan alat musik akulele itu dan lagu yang paling sering aku mainkan adalah : Lagu Nasakom...
Nasakom jiwaku.. singkirkan kepala batu... jreng... jereng.
Lagu itu mudah saja karena hanya cukup menggunakan nada kunci : C G F...
Akhirnya bermodalkan kemahiran alat musik sederhana.. bolehlah aku bangga bisa memainkan musik keyboard yang disebut Organ.... Namun sayangnya aku hanya tahu lagu-lagu jadul... yang akhirnya tidak pernah dibanggakan oleh anak-anaku.

Rabu, 27 Februari 2008

Melati Malam


Ia hanyalah seorang wanita melayu, yang sangat cinta pada anak minangkabau. Simaklah puisi serta kekagumannya pada anak rantau minang :
" buat sahabat ..
bagai saudara..
kemesraan amat terasa...
kau jauh aku di seberang terkenang diri mu yang jauh...
semesra di bicara.. harapan kita bersua..
kan ku cuba mengajak semua yang ku sayangi bersama...
melawati negara yang penoh budi budaya..
terhutang budi dek keiklasan hati..
terbayarkah aku akan semua kasih terindu...


hifni...melati kan cuba..
namun harus ku cari elo...
di aceh menanti...
walaupun bukan janji namun ia terdahulu...
tapi semua di tangan tuhan...
dimana di letak diri ini..
maka di situ lah melati ada...
maaf terpaksa berlalu...
hingga ketemu lagi senyum selalu ya..
salam mesra melati malam thanks hifni...

Senin, 25 Februari 2008

Rang Dapua Cimbuak Gathering 2008



sibuk..... sibuk.....iyolah sabana sibuk. Rina, Reni dan Ratih, rully, taufik, dahen.... ???...
Eeh... indak disangko kawan ambo si Upiek Banun, ... ikuik pulo manatiang natian piring.
...Sambanyo lamak.. yo mamak.....patai jo jariang......

Rumah Ambo dan puisi




Dear all....
.....Dima rumah (Angku,Apak,Uda,Ibu,Uni) di Padang.
.....Rumah Ambo di di jalan Dr Sutomo, Simpang Haru.....
.....Sabalah kama tuu........
.....Kalau awak ka arah indaruang, ndak jauah dari Simpang Haru, sampai di Lakuak,
sabalah kida, ado Ruko nan bacat siirahh, tu Rumah Ambo tu......
.....Ohhh...,kalau baitu Sakampuang Awak mah......., ndak jauah dari situ, sabalah
suok rumah ambo tuma.......
.....Kalau baitu mintaklah rokoknyo ciek Pak
.....Baa lo Apak ko,mantang mantang sakampuang,rokok ambo apak jujuik pulo
heee heee....
.....Iyo lamak rokok apak koh.......lain rasonya (garatis sih...)

Minggu, 24 Februari 2008

Pulang kampung dan prosa Ranah Minangku




" Puisi Ranah Minangku " " Ketika menjelang pesawat ini mendarat di BIM, telah terlihat indahnya ranah minangku. Hamparan hutan dan bukit berbaris rapi indah dan berseri. Hamparan pasir putih bagaikan merenda tepian lautan oh indahnya ranah minangku Negeri yang elok dengan 4 danau terhampar sunyi panorama dan ngarai dengan air sungai yang mengalir tenang Dua gunung - merapi dan singgalang tegak menjagamu serta hamparan lautan tempat kita berselancar
Air mataku haru.. Ingin ku bersuara pada semua anak rantau inilah negeri intan yang berlapis emas negerimu... sanak....!!!! kaya akan budaya, adat istiadat, dan alam yang indah Hatiku berbisik.. apa kata sanak dirantau di cimbuak mereka melampiaskan rindu kampungnya kampung yang harus dipelihara oleh ninik mamak bundo kanduang yang menjadi limpapeh rumah nan gadang Masihkah ada tutur kata yang indah dengan senyum yang imanis dengan segala sambutan yang ramah ? Amboi.. sungguh sayang keramahan itu sirna sudah oleh kemiskinan ranahku kemiskinan yang bernilai materi hatiku sedih.. apa yang bisa ku perbuat. banyak yang ingin kuungkapkan kalimat kesedihan.. kalimat penyesalan mengapa mereka sulit untuk bangkit apakah kita yang terlalu memanjakannya selama ini ? terlalu solider atas dirinya ? Sihingga apa yang diinginkan dengan mudah berharap bantuan dari urang rantau .. ?? Manjakah mereka...??? oh sanak... bangkitlah.. kita telah jauh tertinggal. mengapa semakin banyak pengemis diranah yang kaya ini Apakah tidak ada lagi ninik mamak yang menjagamu... mengapa tidak ada lagi budaya malu.. dimata mereka yang meminta-minta ditengah keramaian tidak adakah lagi induk bako dan ninik mamak yang menolongmu... Wahai sanak... itulah yang terjadi di ranahku ranah minang yang kita cintai....